SAWERAN, MEWARNAI KEGIATAN PENTAS SENI JAMRAN DI KWARRAN KETANGGUNGAN BREBES

Reporter : M. Edi

Ketangggungan, Kata “saweran” berasal dari kata dasar “awer” (Bahasa Sunda) yang artinya air atau benda cair tumpah dan diciprat-cipratkan. Dalam Wikipedia Sunda, sawér diartikan sebagai kegiatan memberi nasihat atau petuah kepada anak-anak atau pengantin di depan orang banyak, disertai dengan menabur benda seperti beras kuning, uang logam, dan permen. Makna tradisi saweran berarti simbol doa agar rezeki pasangan selalu lancar dan berlimpah. Petuah agar suami istri rajin bersedekah dan suka berbagi kepada sesama. Ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan dari pihak keluarga kepada tamu atau kedua mempelai.

Dalam konteks hiburan dan panggung pertunjukkan, saweran berarti memberi uang ke pemain dalam pertunjukan, penari, atau penyanyi.  Penonton memberikan sejumlah uang kepada pemain kesenian (seperti penyanyi, pemain wayang atau penari) yang sedang tampil di atas panggung. Biasanya dilakukan sebagai bentuk apresiasi atau ungkapan terima kasih atas permintaan pertunjukan atau lagu khusus yang ditampilkan dalam pertunjukan.

Pagelaran atau pertunjukan juga merupakan salah satu bagian dari kegiatan kepramukaan khususnya dalan perkemahan. Termasuk dalam ajang Jambore Ranting dalam rangka Hari Pramuka ke-65 dan Ita Jamnas tahun 2026 di Kwarran Ketanggungan, malam pertama (12/08) diisi dengan kegiatan pensi (pentas seni) yang diawali dengan kirab obor. Pentas seni peserta Jamran diisi dengan tarian, menyanyi, seni drama, seni bela diri, dan atraksi lainnya.

Yang unik dan tergolong tradisi baru pada kegiatan pentas seni kegiatan perkemahan di Kwarran Ketanggungan adalah adanya saweran dari penonton, yang mayoritas orang tua wali murid dari peserta Jamran dan para pembina gugus depan peserta Jamran. Hal ini terkait dengan sebagian peserta Jamran adalah peserta yang berasal dari masyarakat yang berbudaya Sunda, yang identik dengan saweran manakala ada kegiatan panggung pertunjukan.

Pada saat peserta tampil, baik menari, menyanyi, maupun atraksi lainnya, penonton beranjak mendekati panggung pertunjukkan dan memberikan sejumlah uang untuk saweran. Kegiatan ini semakin menambah meriah suasana, karena pentas seni bukan hanya ditonton oleh peserta perkemahan, namun oleh penonton umum yang memberikan apresiasi atas penampilan anggota Pramuka dalam pentas seni.

Terlepas dari penilaian plus minus dari berbagai pihak terkait saweran dalam kegiatan pentas seni perkemahan Pramuka, yang pasti Pramuka semakin dekat dengan masyarakat. Orang tua wali murid anggota Pramuka dan penonton umum merasa memiliki dan bersatu dalam rangka kegiatan perkemahan, khususnya dalam kegiatan pentas seni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *